Hari-hari pertama di negeri orang selalu membawa cerita tersendiri. Begitu pula bagi Dwi Putri Engel Liyana, mahasiswa semester 5 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) FKIP Uniska Kediri, yang tengah mengikuti KKN Internasional di Malaysia selama 30 hari, 1–30 Oktober 2026. Bagi Engel, perjalanan ini bukan sekadar kesempatan untuk berada di negara lain, tetapi juga menjadi pengalaman baru untuk belajar mandiri, beradaptasi, berinteraksi lintas budaya, sekaligus menerapkan pengalaman yang diperolehnya selama menjadi mahasiswa PBI.
Perjalanan menuju Malaysia sudah memberikan pengalaman tersendiri bagi Engel. Untuk pertama kalinya, ia bepergian menggunakan pesawat tanpa didampingi orang tua. Perasaan senang dan bangga bercampur dengan rasa gugup dan sedikit khawatir akan merasa rindu rumah. “Saya merasa senang karena baru pertama kali naik pesawat tanpa orang tua. Saya juga sedikit bangga terhadap diri sendiri. Tapi ada rasa nervous dan takut kalau homesick,” ungkap Engel.
Sesampainya di Malaysia, Engel mulai menemukan berbagai hal yang berbeda dari bayangannya sebelum berangkat. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah keberagaman masyarakat yang ia jumpai dalam keseharian. Ia banyak bertemu dengan masyarakat keturunan India dan Bangladesh. Ia juga menemukan kondisi lingkungan yang menurutnya cukup berbeda, termasuk banyaknya kendaraan yang sudah tidak digunakan dan terparkir berjajar di sejumlah tempat.
Perbedaan semakin terasa ketika Engel mulai berinteraksi dengan masyarakat setempat. Kecepatan berbicara menjadi salah satu tantangan yang harus ia hadapi pada minggu pertama. “Saya sedikit bingung karena mereka berbicaranya terlalu cepat dan agak sulit untuk dipahami,” ceritanya. Bagi Engel, situasi tersebut menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan mendengarkan sekaligus membiasakan diri dengan variasi komunikasi yang ditemuinya di lingkungan baru.
Minggu pertama KKN juga diwarnai sejumlah pengalaman unik dan spontan. Karena memiliki kulit putih dan mata yang cenderung sipit, Engel beberapa kali mendapat pertanyaan polos dari anak-anak, “Ustadzah Cina, ya?” yang dalam konteks tersebut bermaksud menanyakan apakah Engel merupakan orang atau keturunan Tionghoa. Bagi Engel, pertanyaan polos tersebut menjadi salah satu cerita kecil yang menggemaskan dari interaksinya bersama anak-anak selama berada di Malaysia.
Selain itu, perjalanan menuju KLCC pada hari Sabtu juga memberikan pengalaman tersendiri. Engel sempat mengalami kebingungan saat menggunakan LRT dan harus menyesuaikan diri dengan sistem transportasi yang belum familiar. Pengalaman- pengalaman kecil tersebut justru menjadi bagian menarik dari perjalanan karena membuatnya belajar untuk lebih tenang, berani bertanya, dan beradaptasi ketika menghadapi situasi yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Sebagai mahasiswa PBI, pengalaman KKN Internasional ini sekaligus menjadi ruang bagi Engel untuk mengaplikasikan kemampuan berbahasa Inggris dan pengalaman berinteraksi dengan peserta didik. Namun, menghadapi anak-anak dengan karakter yang beragam ternyata menjadi salah satu tantangan tersendiri. Menurut Engel, mengondisikan anak-anak membutuhkan energi, kesabaran, dan pendekatan yang tepat. Ditambah dengan cuaca yang cukup panas, proses adaptasi selama minggu pertama terasa cukup menguras energi.
Meski demikian, di tengah berbagai tantangan tersebut, Engel menemukan momen- momen sederhana yang membuat pengalaman KKN terasa berkesan. Salah satunya ketika ia mendapatkan gift dari anak-anak. “Mendapatkan gift dari anak-anak. Lucu sekali,” ujarnya. Bagi Engel, perhatian sederhana tersebut menjadi salah satu kenangan manis di minggu pertama dan membuat pengalaman berinteraksi dengan anak-anak terasa semakin berarti.
Sebelum berangkat, Engel membayangkan Malaysia akan terasa kurang lebih sama dengan Indonesia. Namun, setelah menjalani kehidupan sehari-hari di sana, ia menyadari bahwa terdapat sejumlah perbedaan, mulai dari budaya, lingkungan, hingga keberagaman masyarakat. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa berada di negara lain memberikan kesempatan untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.
Untuk pengalaman kuliner, Engel mengaku belum banyak mencoba makanan khas Malaysia pada minggu pertama. Ia masih memiliki waktu untuk mengeksplorasi pengalaman tersebut pada minggu-minggu berikutnya. Baginya, satu bulan KKN Internasional masih menyimpan banyak cerita yang belum sempat dijalani.
Ketika diminta menggambarkan minggu pertamanya dalam tiga kata, Engel memilih ungkapan “draining my energy.” Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana minggu pertama menjadi fase adaptasi yang cukup menguras tenaga, mulai dari menyesuaikan diri dengan cuaca dan lingkungan baru hingga menghadapi tantangan dalam berinteraksi dengan anak-anak. Namun, di balik rasa lelah tersebut, tersimpan banyak pengalaman yang tidak mungkin diperoleh hanya dari pembelajaran di ruang kelas.
Perjalanan Engel di Malaysia masih panjang. Minggu pertama baru menjadi awal dari rangkaian KKN Internasional selama 30 hari. Masih ada tiga minggu berikutnya yang akan diisi dengan pengalaman mengajar, interaksi lintas budaya, tantangan baru, serta berbagai cerita yang akan menjadi bagian dari perjalanan akademik dan personalnya.
Bagi Engel, mungkin minggu pertama memang terasa “draining my energy”, tetapi justru dari rasa lelah itulah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Karena KKN Internasional bukan hanya tentang pergi ke negara lain, tetapi juga tentang berani keluar dari zona nyaman, belajar beradaptasi, dan membawa pulang pengalaman yang jauh lebih berharga daripada sekadar dokumentasi perjalanan.
