Pagi itu, Gedung Uniska Center tampak lebih hidup dari biasanya. Senyum dan sapaan hangat saling bertukar sejak para dosen, karyawan, hingga perwakilan masyarakat sekitar mulai berdatangan. Halalbihalal yang digelar Universitas Islam Kadiri pada 30 Maret 2026 tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan ruang perjumpaan yang mempertemukan banyak hati dalam suasana penuh keakraban.
Tidak hanya civitas akademika, kehadiran perangkat Kelurahan Manisrenggo beserta para ketua RT dan RW menambah nuansa kebersamaan yang terasa semakin utuh. Kampus dan masyarakat seakan melebur dalam satu suasana yang hangat—tanpa sekat, tanpa jarak.
Dalam sambutannya, Rektor Uniska Kediri, Prof. H. Bambang Yulianto, M.Pd., mengajak seluruh yang hadir untuk memaknai halalbihalal sebagai lebih dari sekadar tradisi pasca-Idulfitri. Ia menggambarkannya sebagai titik temu untuk memperkuat rasa memiliki terhadap kampus dan memperteguh semangat kolektif dalam membangun masa depan Uniska. Gedung Uniska Center pun disebutnya bukan hanya bangunan fisik, melainkan simbol perjalanan panjang, kerja keras, dan harapan bersama. Bahkan, dalam waktu dekat, gedung ini direncanakan mulai difungsikan, termasuk untuk pelaksanaan wisuda.
Lebih jauh, ia menyinggung perkembangan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus yang terus menunjukkan kemajuan. Banyaknya dosen yang telah menempuh pendidikan doktoral menjadi bukti keseriusan Uniska dalam meningkatkan mutu pendidikan. Upaya tersebut juga diperluas melalui langkah internasionalisasi, salah satunya dengan membuka peluang studi luar negeri bagi mahasiswa melalui skema kerja sama yang telah dirancang.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ketua Yayasan Bina Cendekia Muslim Pancasila, Dr. H. Rinto Harno, S.Mn., M.M. Ia menekankan bahwa pembangunan fisik seperti Uniska Center yang megah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas manusia di dalamnya. Gedung yang mampu menampung ribuan orang itu, menurutnya, akan menjadi ruang besar bagi lahirnya berbagai kegiatan akademik dan kemasyarakatan di masa depan.
Di tengah suasana yang khidmat, tausiyah dari KH. Saifullah Efendi menghadirkan dimensi reflektif. Ia mengajak seluruh hadirin untuk kembali menata niat dan memperkuat kepedulian sosial. Melalui pesan sederhana tentang pentingnya sedekah yang tulus dan tepat sasaran, ia mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan hati akan kembali membawa kebaikan dalam kehidupan.
Acara pun berlanjut dalam suasana santai melalui ramah tamah dan makan bersama. Hidangan ketupat Lebaran yang tersaji bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi simbol kebersamaan yang mempererat hubungan antarindividu. Percakapan ringan, tawa, dan kebersamaan yang terjalin menjadi penutup yang manis dari rangkaian kegiatan hari itu.
Lebih dari sekadar seremoni, halalbihalal ini meninggalkan kesan mendalam: bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun institusi. Dari hubungan yang hangat dan sinergi yang kuat, langkah menuju kemajuan pun terasa semakin mantap.
